PERUBAHAN PERAN ORANG TUA DALAM INSTITUSI KELUARGA: STUDI FENOMENOLOGI PADA PERSEPSI REMAJA

 


LAPORAN PENELITIAN


PERUBAHAN PERAN ORANG TUA DALAM INSTITUSI KELUARGA:

STUDI FENOMENOLOGI PADA PERSEPSI REMAJA


Disusun oleh:

Alfian Ragil Prasetyo


BAB I: PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Institusi keluarga mengalami transformasi signifikan seiring dengan tuntutan sosial-ekonomi modern. Pola tradisional dimana ayah berperan sebagai pencari nafkah dan ibu mengurus domestik telah bergeser menjadi model dimana kedua orang tua seringkali bekerja di luar rumah. Perubahan ini membawa dampak kompleks terhadap struktur peran, dinamika keluarga, dan terutama perkembangan anak. Berdasarkan observasi awal, muncul fenomena dimana anak-anak yang ditinggal kedua orang tuanya bekerja cenderung menunjukkan perilaku yang membutuhkan perhatian serius, seperti mencari pengakuan di luar keluarga dan kurangnya pengawasan.Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi remaja mengenai perubahan peran orang tua dalam institusi keluarga.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah penelitian ini adalah: "Bagaimana persepsi remaja mengenai perubahan peran orang tua dalam institusi keluarga di era modern?"

1.3 Tujuan Penelitian

•Untuk memahami persepsi remaja tentang makna dan fungsi keluarga.

•Untuk menganalisis pandangan remaja mengenai perubahan peran orang tua.

•Untuk mengidentifikasi dampak yang dirasakan remaja dari perubahan peran orang tua tersebut.

BAB II: KAJIAN PUSTAKA

2.1 Institusi Keluarga dan Fungsinya

Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat yang berfungsi sebagai institusi primer untuk sosialisasi anak (Berger & Luckmann, 1966). Fungsi keluarga meliputi reproduksi, sosialisasi, ekonomi, dan pemenuhan kebutuhan afektif.

2.2 Peran Orang Tua dalam Keluarga

Parsons & Bales (1955) membedakan peran orang tua menjadi instrumental (ayah sebagai pencari nafkah) dan ekspresif (ibu sebagai pengasuh). Namun, dikotomi ini telah banyak berubah dalam masyarakat kontemporer.

2.3 Teori Perubahan Sosial dan Keluarga

Teori fungsionalis melihat perubahan keluarga sebagai adaptasi terhadap tuntutan sosial-ekonomi (Ogburn & Nimkoff, 1955). Sementara teori konflik menekankan pada ketegangan antara struktur keluarga dan kebutuhan individu.

2.4 Dampak Perubahan Peran Orang Tua

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ketidakhadiran orang tua secara fisik dan emosional dapat berdampak pada perkembangan psikososial anak (Amato, 1994). Namun, penelitian dari perspektif remaja sebagai subjek masih terbatas.

BAB III: METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi fenomenologi untuk memahami pengalaman dan persepsi remaja mengenai perubahan peran orang tua.

3.2 Partisipan Penelitian

Tiga partisipan berusia 17-18 tahun yang dipilih melalui teknik purposive sampling:

•Jeremia Kresianto (18 tahun, Desa Winong)

•Nabila (17 tahun, Desa Bungasrejo)

•Nova (17-18 tahun, Desa Mantingan Tengah)

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Wawancara semi-terstruktur yang direkam dan ditranskrip secara verbatim. Pedoman wawancara mencakup: pandangan tentang keluarga, fungsi keluarga, dan perubahan peran orang tua.

3.4 Analisis Data

Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik Braun & Clarke (2006) melalui proses: transkripsi, pengkodean, identifikasi tema, dan penyusunan laporan.

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Persepsi tentang Hakikat Keluarga

Ketiga partisipan mendefinisikan keluarga sebagai unit yang dibangun atas dasar ikatan emosional dan saling mendukung. Ceremia menekankan pada "saling mengasihi dan memiliki ikatan," sementara Nabilah menekankan struktur tradisional ayah-ibu-anak. Nova menambahkan aspek "hubungan dan pertalian yang saling mengasihi."

4.2 Fungsi Keluarga dalam Pola Asuh

Semua partisipan sepakat bahwa keluarga berfungsi sebagai:

•Lembaga Pendidikan Pertama: "Keluarga itu sebagai tempat edukasi pertama dan yang paling berpengaruh" (Nova)

•Pembentuk Karakter: "Keluarga sudah memberikan edukasi yang baik, pasti anak akan membawa perilaku yang baik" (Nova)

•Sumber Pengawasan dan Bimbingan: "Keluarga yang utuh dan tidak terpecah belah itu baik" (Nabila)

4.3 Fenomena Perubahan Peran Orang Tua

Partisipan mengamati pergeseran dari pola tradisional menuju kedua orang tua bekerja:

"Dahulu orang tua, bapak dan ayah sama ibu, misalnya ayah-ayah kerja di luar ibunya kerja di dalam di rumah. Sedangkan fenomen ini kerap-kali kedua orang tua itu kerja di luar..." (Peneliti)

4.4 Dampak yang Dirasakan dan Dikhawatirkan

4.4.1 Dampak Negatif:

•Anak Tidak Terkontrol: "Anak-anaknya cenderung tidak terkontrol" (Jeremia)

•Kekurangan Kasih Sayang: "Anak itu masih membutuhkan yang namanya kasih sayang" (Jeremia)

•Pencarian Identitas di Luar: "Anak justru sering mencari pengakuan di luar" (Nova)

•Risiko Pergaulan Negatif: "Bisa jadi anak akan bergaul dengan orang-orang yang kurang baik" (Nova)

4.4.2 Dilema yang Dikemukakan:

Partisipan memahami konflik antara kebutuhan ekonomi dan pengasuhan:

•"Memang baik untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, tapi di sisi juga anak masih membutuhkan peran orang tua" (Jeremia)

•"Keputusan orang tua dalam merantau untuk mencari uang itu menuai pro-kontra" (Nova)

4.5 Pembahasan

Temuan penelitian konsisten dengan teori perubahan sosial Ogburn & Nimkoff (1955) mengenai adaptasi keluarga terhadap tuntutan ekonomi. Persepsi partisipan tentang keluarga "utuh" (cemara) sejalan dengan konsep keluarga sebagai sistem pendukung (family support system) dalam teori keluarga.

Kekhawatiran partisipan tentang dampak negatif perubahan peran orang tua mendukung temuan Amato (1994) mengenai pentingnya kehadiran orang tua dalam perkembangan anak. Namun, partisipan juga menunjukkan pemahaman yang kompleks tentang dilema yang dihadapi orang tua, mencerminkan kematangan perspektif sosial mereka.

BAB V: PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis data, dapat disimpulkan bahwa:

1.Remaja memandang keluarga sebagai institusi fundamental berbasis ikatan emosional dan pendidikan moral

2.Terjadi perubahan signifikan dalam peran orang tua dari pola tradisional menuju kedua orang tua bekerja

3.Perubahan ini menimbulkan dampak negatif yang dikhawatirkan remaja, khususnya dalam aspek pengawasan dan pemenuhan kebutuhan afektif

4.Remaja memahami dilema yang dihadapi orang tua antara tuntutan ekonomi dan tanggung jawab pengasuhan

5.2 Implikasi

•Teoritis: Memperkaya perspektif fenomenologis tentang perubahan keluarga dari sudut pandang remaja

•Praktis: Perlunya kebijakan kerja yang ramah keluarga dan program pendampingan untuk remaja dengan orang tua bekerja

5.3 Keterbatasan dan Saran

Keterbatasan penelitian pada tiga partisipan menyulitkan generalisasi. Penelitian lanjutan disarankan untuk:

•Memperluas jumlah dan variasi partisipan

•Melibatkan perspektif orang tua dan guru

•Menggunakan metode mixed-methods untuk data yang lebih komprehensif

DAFTAR PUSTAKA

•Amato, P. R. (1994). Father-child relations, mother-child relations, and offspring psychological well-being in early adulthood. Journal of Marriage and the Family, 56(4), 1031-1042.

•Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Anchor Books.

•Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77-101.

•Ogburn, W. F., & Nimkoff, M. F. (1955). Technology and the changing family. Houghton Mifflin.

•Parsons, T., & Bales, R. F. (1955). Family, socialization and interaction process. Free Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membangun Masyarakat Pati Melalui Pertanian

Sosiologi Puasa: Transformasi Tindakan Individual Menjadi Pemberdayaan Sosial Oleh: Siswa SMA N 1 Jakenan

Perubahan Sosial Perilaku Pejabat di Indonesia: Analisis Unsur-Unsur Perubahan